Rendezvous

Back to the day i wore that gray skirt, you passed me and smiled. My face blushed, dropped my book, made sure my glasses in its place. Oh my first sight love.

Back to the day you picked me from English Course, afternoon. Took me to have some ice cream, dating. Smiling and can’t stop laughing. Oh how i love you.

Now, you’re gone. God have your heart. Never let me to take care it much.

-starlian- 2013

Resepsi Pernikahan

Percakapan di anggota pertemanan saya sedang menghangat. Topiknya soal “Pernikahan”. Topik yang sejujurnya bukan makanan favorit saya. Kalau pun makanan itu tersaji di piring hidup saya, mungkin akan saya singkirkan, kasih ke kucing, atau mungkin saya sisakan untuk di makan (mungkin).

Saya bukan takut untuk menjalani pernikahan. Tapi konsep pernikahan yang saya punya sudah tidak sama lagi dengan konsep pernikahan yang dimiliki orang-orang kebanyakan. Konsep yang bergeser sejak terlalu jauhnya saya mundur dari kehidupan lelaki yang sampai hari ini masih saya inginkan untuk teman menikah.

Persiapan pernikahan yang sedang dijalani teman saya membuatnya kurus, itu pengakuannya. Dia sibuk membagi waktu untuk bekerja, memikirkan konsep acara, memikirkan baju pengantin, bentuk undangan, memikirkan dekorasi, catering, dan lainnya. Sibuk melakukan food-tester, make-up test, konsultasi warna dekorasi, menyesuaikan undangan. Belum lagi harus mencari kain yang pas untuk dijadikan seragam (Jangan lupa, seragam untuk keluarga berbeda warna dengan seragam untuk sahabat, juga dengan seragam untuk penerima tamu). Whooosaaaah…. saya yang tidak menjadi pengantin saja mendengarnya malas.

Buat saya, resepsi pernikahan itu adalah bentuk lain dari pemborosan uang. Kalau mau dirata-rata, berapa angka yang diperlukan untuk sebuah resepsi pernikahan? Di atas 50 juta bukan? Pernah berpikir kalau saja angka besar itu dipakai untuk program bagi-bagi buku untuk daerah pedalaman, berapa banyak yang bisa terbantu? Okay, mungkin terlalu melebar kalau harus memikirkan anak bangsa yang lainnya. Bagaimana kalau angka besar untuk resepsi pernikahan dipakai untuk jalan-jalan, untuk membeli rumah, untuk mencicil mobil baru? Angka sebanyak itu tentunya akan jauh lebih berguna dibanding untuk pemborosan hanya demi harga diri terhadap keluarga besar, kolega bisnis, atau lingkungan sosial.

Jangan lupakan juga, seberapa banyak dana yang akan dikeluarkan para tamu untuk baju, sepatu, dan tatanan rambut? Bukan nominal kecil jika dikalikan dengan jumlah undangan yang hadir bukan? Dan seberapa banyak kendaraan yang akan membuat kemacetan untuk tiba di gedung/rumah tempat resepsi?

Kalau saja uang untuk baju, sepatu, tatanan rambut dan make-up dimasukkan dalam amplop untuk diberikan ke si pengantin, tentu lebih berguna. Sangat berguna.

 

Seberapa banyak dari kita yang mau menjelaskan hal ini kepada orang tua masing-masing?

//

Perempuan Ini

Kemudian mereka saling bertatapan, tersenyum dan menguatkan. Jemari saling menggenggam, menikmati lantunan musik dari band pengiring yang menyanyikan lagu rindu. Menderu hebat detak jantung mereka, berjuang dengan nafas terengah karena dikejar waktu  yang tak berkawan mesra. Mereka yang bercinta, lupa pada pasangannya.

“Aku menikmati malam ini”Hansa, si lelaki, berkata lembut. Disapunya mesra tangan gadis yang duduk tak berjarak di sebelahnya.

“Terima kasih. Sempurna.”Greta tersenyum.

Suara telepon genggam mereka berbunyi, hampir bersamaan. Hansa menerima pesan di WhatsApp, sedangkan Greta mendapatkannya di Blackberry Messengernya.

“Kamu dimana?”

Itu isi pesannya.

Hansa menjawab pertanyaan yang masuk, “Masih di kantor. Meeting mendadak sama Pak Dhan. Kamu pulang sendiri ya malam ini. Lusa kita ketemu”

Greta sibuk dengan touch screen-nya. “Aku pulang ke rumah Mama. Besok diminta ikutan bantuin acara Kak Sheila. Ini juga masih ngobrol-ngobrol. Brb.”

Aku cukup lama berdiri di belakang mereka. Sempat melihat semuanya sebelum akhirnya mendapati mereka kembali saling menatap, saling tersenyum bergenggaman tangan. Ketika Hansa hendak mencium pipi Greta, aku lebih mendekat.

“Permisi. Ini pesanannya. Lychee Beer dan Vodka Cola.”

Kurapikan seragam pelayanku. Meninggalkan mereka yang kemudian berciuman.